Kemiskinan yang terburuk adalah KESEPIAN dan merasa tidak DICINTAI .... (M. Teresa)

Rabu, Desember 16, 2009

Hidup Hanya Sebuah Perjalanan

by: Edi S.

Dulu, ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda dan menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya. Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.

Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Akhirnya, sampailah dia pada suatu tempat dimana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya, dan dia menjadi begitu kelelahan dan hampir mati.

Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, "Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat, dan aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri."

Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri.
Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan sekitar, hal-hal yang ingin kita lakukan, dan juga kehidupan rohani dan pelayanan kita.

Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan. Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok.

Atau apa yang akan kita lakukan jika kita meninggal dalam waktu seminggu? Sebulan? Setahun? Sepuluh tahun? 40 tahun lagi? Bukankah suatu hal yang sudah pasti bahwa kita akan mati? Tapi, itulah -kita tidak tahu, kita semua tidak ada yang tahu. Hanya perlu bertanya pada diri kita sendiri, sudah siapkah menghadapi itu ?

Jalanilah hidup yang seimbang -Belajarlah untuk menghormati dan menikmati kehidupan, dan yang terutama: Mengetahui apa yang TERPENTING dalam hidup ini. (Ed)


Read more...

Jumat, Desember 11, 2009

Percayalah padaKu

by: Edi S.

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (Amsal 3:5)

Suatu hari, Kerry Shook, penulis buku "One Month to Live" mengajak putranya bermain ke taman. Begitu sampai di taman, putranya Josh langsung berlari ke arah permainan yang paling di sukainya, sebuah palang untuk bergantung.

"Tolong angkat aku untuk bergantung di palang ini," demikian pintanya pada sang Ayah.

Kerry lalu mangangkatnya, dan tangan kecil Josh langsung berpegang erat pada palang tersebut tanpa dipegang lagi oleh ayahnya.

Kaki kecilnya bergantung sekitar 5 kaki di atas tanah, dan Josh terlihat begitu bangga bisa kuat bergantung disana. Sekitar beberapa menit kemudian, dia mulai lelah dan meminta di turunkan.

"Ayah, tolong turunkan saya."

Ayahnya menjawab,"Josh, lepaskan saja peganganmu dan aku akan menangkapmu."

Terlihat segurat keraguan di wajahnya, dia berkata,"Tidak, turunkan aku."

Kembali Kerry berkata,"Josh, jika kamu lepaskan peganganmu, aku akan menangkapmu."

"Tidak, turunkan aku."

"Josh, aku mencintaimu. Aku janji, aku akan menangkapmu."

Bagi Kerry ini adalah kesempatan untuk mengajar Josh bahwa dia bisa mempercayai ayahnya. Josh hanya perlu melepaskan pegangan pada palang itu, dan ayahnya akan menangkapnya. Tetapi pria kecil itu bertahan dengan seluruh kekuatannya bergantung di palang itu. Dia berpegangan hingga tangannya mulai kelelahan dan tidak bisa bertahan lagi.
Akhirnya dia lepaskan pegangannya dan dia ditangkap oleh ayahnya.

Sebuah senyum mengembang diwajahnya, dia diturunkan ke tanah oleh ayahnya dan langsung berlari untuk bermain ayunan.

Pelajaran untuk Josh telah selesai, namun ayahnya, Kerry tiba-tiba mendengar suara Tuhan dengan jelas yang berbicara kepadanya.

"Seperti itulah hubunganmu denganKu. Kamu sering berpegangan dengan suatu keputusasaan pada palang kehidupanmu, coba melakukan sesuatu dengan kekuatanmu sendiri. Kamu mengalami pergumulan yang tiada akhir, mencoba mengendalikan semua situasi. Kamu bertahan dan berpikir bahwa tidak ada orang yang akan menangkapmu sehingga kamu pikir lebih baik kamu bertahan di palang tersebut dan mempererat pegangan. Ketika kamu lelah bergantung, dan tanganmu mulai lemah, Aku berkata, "Lepaskan pegangan, dan Aku akan menangkapmu. Lepaskan peganganmu. Aku janji, Aku mencintaimu dan akan menangkapmu."

Seringkali kita mencoba mengerjakan segala sesuatu dengan kekuatan kita sendiri, berpikir sebaiknya kita kekiri, ketika Tuhan berkata ke kanan.

Hari ini Dia berkata, "Aku membentukmu dengan tanganKu sendiri. Aku menciptakanmu dengan sebuah tujuan, dan Aku mati untuk menebusmu.
Mengapa kamu tidak bisa mempercayaiKu? Aku memberikan hidupKu untukmu.
Aku Tuhan atas alam semesta ini. Kamu hanya perlu melepas peganganmu, dan Aku akan menangkapmu."

Bapa sorgawi ingin Anda dan saya untuk mempercayainya. Jika Anda berkeras untuk mengendalikan keadaan Anda sendiri, berjuang dengan kekuatan Anda sendiri, merencakan apa yang baik menurut pikiran Anda sendiri, Anda akan kelelahan. Anda akan kehabisan daya.

Ini adalah saatnya Anda mengambil sebuah resiko untuk melepaskan pegangan Anda. Ini saatnya untuk mengalami kuasa Tuhan bagaimana Dia menyatakan mukjizatnya dalam hidup Anda bahkan pada bagian-bagian yang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya.

Mempercayai Tuhan membutuhkan keberanian, hal itu di butuhkan iman.
Namun mempercayai Tuhan tidak akan pernah merugikan. Memang, jantung Anda akan sedikit deg-degan, tapi percayalah Dia selalu tepat waktu dan tidak mungkin meleset untuk menangkap Anda.

Waktu Tuhan selalu indah, dan Dia dapat dipercaya.(Ed)

Read more...

Senin, November 23, 2009

MENGAPA SAYA ?

oleh: Edi S.

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australia Open (1970), danWimbledon (1975). Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yg mengharuskannya menjalani operasi by pass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.
Seorang penggemar menulis surat padanya, "Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?" Ashe menjawab, "Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, diantaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding,5.000 mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, empat orang di semi final, dua orang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?'. Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?'" Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan,karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan. Namun Ashe, tidak demikian.Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup menekan berat. Ketika menerima sesuatu yang buruk ingatlah saat-saat ketika kita menerima yang baik. Maka bersyukurlah setiap waktu, karena Tuhan itu baik. (Ed)


Read more...

Jumat, Oktober 16, 2009

Salam Maria dan Rosario



oleh: Romo Victor Hoagland, C.P.

Kita mengatakan Bapa “kami” dalam doa Bapa Kami. Dengan mengatakan “kami”, kita menyatakan bahwa doa bukanlah suatu tindakan yang kita lakukan seorang diri. Kita berdoa bersama dengan yang lain.

Bersama siapakah kita berdoa? Kita berdoa bersama Yesus Kristus. Yesus tidak hanya mengajar kita bagaimana harus berdoa, tetapi Ia juga berdoa bersama kita serta mempersatukan doa-doa kita dengan doa-Nya sendiri.
Oleh karena kita berdoa bersama Dia, doa-doa kita seringkali diakhiri dengan kata-kata sebagai berikut: “dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra Tunggal Allah, Tuhan kita, yang hidup dan berkuasa untuk selama-lamanya.” Kita berdoa bersama Yesus Kristus.


Bapa “kami” berarti kita berdoa bersama yang lain juga; sebagai contoh, mereka semua yang telah dibaptis dalam nama Kristus. Doa Bapa Kami hendaknya senantiasa mengingatkan umat Kristiani akan persatuan mereka satu dengan yang lain, meskipun sayangnya, perbedaan-perbedaan masih memisahkan gereja-gereja Kristen. Kita, umat Kristen, percaya bahwa kita bersatu dalam doa; kita dapat berdoa bersama yang lain serta saling mendoakan satu sama lain. Doa merupakan sumber hidup yang mempersatukan kita semua.
Dalam Gereja Katolik, keyakinan bahwa kita bersatu dalam doa dengan yang lain diungkapkan dalam doa kepada Bunda Maria, Bunda Yesus, dan kepada para kudus. “Kita percaya akan persekutuan para kudus” yang berdoa bersama kita dan bagi kita, dalam persatuan dengan Yesus Kristus.
Doa yang indah bagi Bunda Maria dalam tradisi Katolik adalah doa Salam Maria. Bagian pertama dari doa tersebut berkembang dalam abad pertengahan ketika Maria, Bunda Yesus, menjadi perhatian umat Kristiani sebagai saksi terbesar atas hidup, wafat serta kebangkitan Kristus. Bagian awal doa merupakan salam Malaikat Gabriel di Nazaret, menurut Injil Lukas:

Salam Maria,
penuh rahmat,
Tuhan sertamu,


Dengan perkataan tersebut, malaikat Tuhan menyatakan belas kasih Ilahi. Tuhan akan menyertai Maria. Maria akan melahirkan Yesus Kristus ke dunia.
Bagian selanjutnya, adalah salam yang disampaikan kepada Maria oleh Elisabet, sepupunya, seperti ditulis dalam Injil St. Lukas:

terpujilah engkau di antara wanita,
dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.

Dan akhirnya, pada abad ke-15, bagian doa selanjutnya ditambahkan:

Santa Maria, bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini
sekarang dan waktu kami mati.


Bagian doa tersebut memohon kepada Maria, yang penuh rahmat serta dekat dengan Putra-nya, untuk mendoakan kita orang berdosa, sekarang dan saat ajal menjelang. Bersama dengan murid kepada siapa Yesus mempercayakan ibunda-Nya di Kalvari dengan mengatakan “Inilah ibumu!”, kita mengakui Bunda Maria sebagai bunda kita. Bunda Maria akan senantiasa mendekatkan kita pada Kristus. Sejak dari permulaan Bunda Maria mengenal-Nya; ia menjadi saksi atas hidup, wafat dan kebangkitan Kristus; tidakkah Bunda Maria akan membantu kita untuk lebih mengenal Putra-nya dan misteri hidup-Nya? Kita mengandalkan belas kasih Bunda Maria kepada kita seperti yang ia lakukan bagi pasangan pengantin di Kana, di Galilea. Kita mempercayakan segala kebutuhan kita kepada Bunda Maria.
Pada akhir abad ke-16, kebiasaan mendaraskan 150 Salam Maria dalam suatu rangkaian doa atau perpuluhan menjadi populer di kalangan umat Kristiani. Dalam doa-doa tersebut, peristiwa-peristiwa hidup, wafat dan kebangkitan Yesus direnungkan. Praktek doa itu sekarang dikenal sebagai Doa Rosario.
Bunda Maria senantiasa menjadi teladan iman dan pelindung orang-orang Kristen yang percaya. Ketika Malaikat Gabriel datang kepadanya, ia percaya akan warta yang disampaikan malaikat dan tetap teguh pada imannya tanpa ragu sedikit pun meskipun harus melewati pencobaan gelap Kalvari. Bunda Maria mendampingi kita juga yang adalah saudara dan saudari Putra-nya, sepanjang ziarah kita di dunia yang penuh dengan kesulitan dan mara bahaya.
Selama berabad-abad telah banyak umat Kristiani mengakui bahwa Salam Maria dan Rosario merupakan sumber rahmat rohani. Doa rosario adalah doa yang sederhana sekaligus mendalam. Rosario dapat dilakukan siapa saja, pengulangan kata-katanya mendatangkan kedamaian bagi jiwa. Renungan akan kisah hidup Yesus dalam peristiwa-peristiwa gembira, cahaya, sedih, maupun mulia dimaksudkan agar diamalkan dalam hidup kita sendiri. Melalui peristiwa-peristiwa tersebut, kita berharap untuk “meneladani apa yang diteladankan dan memperoleh apa yang dijanjikan”.

sumber : “The Hail Mary and the Rosary” by Fr. Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1997-1999 - The Passionist Missionaries; www.cptryon.org/prayer
diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland, CP.”



Read more...

Jumat, Agustus 28, 2009


Yesus tidak menulis Kitab Suci
Pernahkah anda bertanya dalam hati: “Mengapa Yesus sendiri tidak menulis Kitab Suci?” Bukankah hal ini lebih baik, sehingga tidak ada pertanyaan tentang asal usul Kitab Suci di kemudian hari? Demikianlah, mungkin hingga saat ini banyak orang mempertanyakannya, bahkan sampai pada titik menolak untuk percaya kepada Kitab Suci dan kepada pesan Keselamatan yang tertulis di dalamnya; bahwa Yesus, Sang Putera Allah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita? Mari merenungkan hal ini: Yesus adalah Sang Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14). Pribadi-Nya sendiri adalah Sabda Allah: Dia-lah “Kitab Suci” yang hidup. Maka dapat dimengerti jika Yesus tidak menulis Kitab Suci, karena Ia tidak ingin membatasi Diri-Nya hanya pada ajaran dan peraturan yang tertulis oleh huruf-huruf. Ia tidak menulis Kitab Suci karena Ia menghendaki semua orang untuk melihat dan membaca Pribadi-Nya yang tak terbatas. Di sanalah tertulis segala kesempurnaan ajaran, teladan, dan gambaran Allah sendiri. Bukankah bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita mengetahui bahwa seorang pemimpin, seniman ataupun guru yang terbesar adalah ia yang berhasil membentuk murid-muridnya untuk menjadi pemimpin, seniman, ataupun guru yang besar juga? Demikianlah, dalam kebijaksanaan-Nya, Allah membentuk manusia, untuk mengikuti teladan-Nya untuk mencapai kehidupan kekal seperti yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus. Untuk mewujudkan rencana-Nya, Allah memilih orang-orang beriman tertentu yang dibimbing secara khusus oleh Roh Kudus-Nya, untuk menuliskan rencana Keselamatan-Nya ini.


Asal usul Kitab Suci
Maka umat Kristiani percaya bahwa Kitab Suci bukan merupakan kitab yang ‘jatuh’ dari surga, ataupun kitab yang dituliskan oleh Kristus, melainkan Kitab yang terdiri dari kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang pilihan Allah yang diilhami Roh Kudus. Nah, pertanyaannya, dari mana kita tahu bahwa kitab-kitab tertentu diilhami oleh Roh Kudus, sedangkan ada banyak kitab lainnya ‘hanya’ merupakan karya manusia? Sejarah menunjukkan bahwa yang menentukan apakah suatu kitab tertentu diilhami Roh Kudus atau tidak adalah Gereja Katolik. Hal ini mungkin karena kita percaya bahwa Gereja Katolik dipimpin oleh para rasul dan para penerusnya yang dibimbing oleh Roh Kudus. Karena Roh Kudus ini adalah Roh yang sama dengan Roh yang mengilhami penulisan kitab-kitab itu, maka peneguhan yang ditetapkan oleh Gereja tentang kitab-kitab tersebut tidak mungkin keliru, karena Roh Kudus tidak mungkin mempertentangkan Diri-Nya sendiri.

Jika kita tidak mempercayai hal ini, kita sama saja dengan mempertanyakan janji Kristus yang mengatakan akan menyertai para rasul-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20). Kita tahu, bahwa para rasul semuanya telah wafat, sehingga janji penyertaan-Nya sampai akhir zaman hanya mungkin diartikan bahwa Yesus akan menyertai para pengganti rasul- rasul tersebut, dan menjaga mereka dari kesesatan dalam kapasitasnya memimpin Gereja dan melestarikan ajaran Kristus. Maka, dengan mengimani janji Kristus itu, kita percaya bahwa para pengganti rasul diilhami oleh Roh Kudus untuk meneguhkan kitab-kitab mana yang diilhami Roh Kudus, yang kemudian membentuk Kitab Suci.

Wahyu Ilahi diberikan kepada beberapa orang pilihan-Nya untuk dituliskan
Allah memberikan wahyu Ilahi kepada banyak orang pilihan-Nya, tidak hanya kepada satu orang saja, untuk dituliskan. Justru karena penulisan Alkitab melibatkan banyak orang selama jangka waktu ribuan tahun, maka secara objektif kita melihat campur tangan Allah dalam hal ini. Wahyu Ilahi ini diberikan dalam sejarah manusia, yaitu kepada para nabi dalam Perjanjian Lama, dan selanjutnya diteruskan oleh para rasul dan para muridnya untuk menyampaikan penggenapan Perjanjian Lama dalam diri Kristus dalam Perjanjian Baru. Ini adalah karya Allah yang sangat mengagumkan, dan justru tidak mungkin salah, karena wahyu tersebut tidak tergantung oleh satu orang saja, namun melibatkan banyak orang dari banyak generasi. Bagaimana naskah- naskah kitab yang terpisah satu sama lain yang ditulis oleh orang-orang yang bisa saja tidak saling kenal satu sama lain, karena terpisah oleh jarak dan waktu/ perbedaan generasi, namun yang memberikan inti pengajaran yang sama, yang pada akhirnya menunjuk dan membuka jalan bagi kedatangan Kristus, itulah yang seharusnya membuat kita tertunduk kagum. Betapa indahnya rencana keselamatan Allah yang melibatkan umat-Nya. Keikutsertaan manusia dalam rencana keselamatan Allah ini tidak mengurangi kemuliaan-Nya, namun semakin melipat-gandakannya. Ia membuktikan DiriNya Mahakuasa, karena Ia memampukan manusia yang lemah untuk mengambil bagian dalam rencana Keselamatan-Nya; baik dalam menuliskan, menyebarluaskan dan melestarikan Kitab Suci, dan tentu saja, dalam melaksanakannya, jika manusia mau bekerjasama dengan Dia.

Peran Gereja Katolik
Dari bukti sejarah kita melihat adanya banyak kitab yang menceritakan tentang Allah. Tentu orang berhak bertanya, mana kitab yang benar, mana yang tidak. Semua orang tentu dapat mempunyai penilaian sendiri-sendiri, namun berbahagialah kita yang percaya bahwa Allah menyertai Gereja-Nya dengan Roh Kudus-Nya, sehingga Gereja yang bertindak atas nama Kristus itulah yang paling berwewenang untuk menentukan kitab mana yang otentik diilhami Roh Kudus, dan kitab mana yang tidak. Karena bimbingan Roh Kudus pada Gereja Katolik inilah, maka kita percaya bahwa kitab-kitab yang ditetapkan oleh Gereja adalah sungguh yang ditetapkan oleh Allah sendiri.

Bukti sejarah ini sungguh membuka mata kita bahwa sesungguhnya Kitab Suci yang kita kenal sekarang ada karena Gereja Katolik, yang menetapkan kanon Kitab Suci. Kata ‘kanon’ sendiri berarti ‘batang pengukur’ atau ‘standar’. Jadi kanon Kitab Suci adalah daftar kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus yang membentuk Kitab Suci, yang ditentukan oleh tradisi apostolik Gereja Katolik.[1]

Kitab Suci saja (‘Bible alone’) tidak cukup
Ada kelompok orang-orang yang mengatakan bahwa hanya Kitab Suci yang menjadi sumber satu-satunya iman Kristen. Namun, pendapat ini tidak dapat menjelaskan bagaimana kita dapat tahu dengan pasti bahwa kitab-kitab tertentu termasuk dalam Kitab suci sedangkan kitab yang lainnya tidak. Sebab, kanon Kitab Suci tidak diketahui dari Kitab Suci itu sendiri. Di dalam Kitab Suci (dari Kejadian sampai Wahyu) tidak disebutkan bahwa kitab ini dan itu termasuk Kitab Suci, sedang kitab yang lain tidak. Maka, secara objektif sesungguhnya dapat kita lihat, bahwa berpegang pada Kitab Suci saja tidaklah cukup. Peran Gereja menjadi sangat penting, karena Gereja lahir terlebih dahulu dari Kitab Suci. Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus-lah yang menjadi saksi otoritatif yang dapat menentukan apakah kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus atau tidak. Peran Gereja Katolik ini diakui juga oleh pendiri gereja Protestan, Martin Luther, yang mengatakan, “Kita diwajibkan untuk bersandar pada Gereja Katolik- bahwa mereka memiliki Sabda Tuhan yang kita terima dari mereka, jika tidak, kita tidak dapat mengetahui apapun tentang itu.”[2]

Kanon Kitab Suci menurut Gereja Katolik
Kanon Kitab Suci yang ditetapkan menurut tradisi apostolik Gereja adalah Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab.[3] Mungkin kita pernah mendengar bahwa Gereja Katolik dikatakan ‘menambahkan’ 7 kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yudit, Barukh, Tobit, 1 dan 2 Makabe (beserta tambahan Kitab Daniel dan Esther), yang dikenal dengan Kitab Deuterokanonika.[4] Tetapi sesungguhnya, ketujuh kitab tersebut sudah ada sejak jemaat awal. Baru sekitar 1500 tahun kemudian, Martin Luther memisahkan ketujuh kitab ini dari kanon Perjanjian Lama. Kitab-kitab ini digabungkan dengan kitab-kitab lain yang umum disebut sebagai kitab Apokrif/ “Apocrypha” oleh Gereja Protestan.

Kanon Perjanjian Lama (PL)[5]
Kanon Perjanjian Lama gereja Protestan diambil berdasarkan kanon kaum Yahudi yang berbahasa Ibrani di Palestina. Sedangkan kanon Perjanjian Lama Gereja Katolik berdasarkan atas kanon kaum Yahudi yang berbahasa Yunani (Alexandria) di seluruh Mediterania, termasuk di Palestina. Alexandria adalah kota di Mesir yang mempunyai perpustakaan terbesar pada jaman itu, di bawah kepemimpinan Raja Ptolemy II Philadelphus (285-246 BC). Maka keseluruhan Kitab Suci Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh 70 atau 72 orang ahli kitab Yahudi. Terjemahan ini selesai pada tahun 250-125 BC, dan dari sanalah kita mengenal kata “Septuagint” yaitu kata Latin dari 70 (LXX), sesuai dengan jumlah para penerjemah itu.

Pada jaman Yesus hidup, bahasa Ibrani adalah bahasa yang mati/ tidak digunakan. Orang-orang Yahudi di Palestina pada saat itu umumnya bicara dengan bahasa Aramaic. Sedangkan pada waktu itu, bahasa Yunani merupakan bahasa yang umum dipergunakan di seluruh dunia Mediteranian. Maka tak mengherankan bahwa yang Alkitab yang dipergunakan oleh Yesus adalah terjemahan Septuagint/ Yunani, dan terjemahan Septuagint ini pula yang dipergunakan oleh para penulis kitab Perjanjian Baru.

Pengarang Protestan yang bernama Gleason Archer dan G.C. Chirichigno membuat daftar yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru mengutip Septuagint sebanyak 340 kali, dan hanya mengutip kanon Ibrani sebanyak 33 kali.[6] Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam Perjanjian Baru, terjemahan Septuagint dikutip sebanyak lebih dari 90%. Jangan lupa, seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Mengapa PL menurut Septuagint berisi 46 kitab sedangkan kanon Ibrani 39 kitab
Kanon Ibrani ditetapkan oleh para rabi Yahudi di Javneh/Jamnia, Palestina, pada sekitar tahun 100, yang kemungkinan disebabkan oleh reaksi mereka terhadap Gereja yang menggunakan kanon Yunani (Alexandria). Alasan mereka tidak memasukkan seluruh kitab ini ke dalam kanon mereka adalah karena mereka tidak dapat menemukan ke-7 kitab Deuterokanonika tersebut dalam versi Ibrani. Namun Gereja Katolik tidak mengakui keputusan para rabi Yahudi tersebut. Jangan kita lupa, bahwa mereka (para rabi Yahudi) tidak pernah menerima Kristus, ajaran Kristiani maupun Perjanjian Baru yang sudah ada sebelum kanon Ibrani ditetapkan. Bagaimana kita dapat mempercayai keputusan para rabi Yahudi untuk menentukan kanon Kitab Suci? Atau mengakui bahwa mereka dipimpin oleh Roh Kudus, padahal mereka malah telah menolak Kristus?

Memang harus diakui bahwa karena wahyu ilahi diberikan pertama-tama melalui bangsa Yahudi, maka tak mengherankan jika Alkitab kita mengandung kitab-kitab suci yang diakui juga oleh kaum agama Yahudi. Menurut The Pontifical Biblical Commision, on The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible, (I, E, 3.Formation of the Christian Canon), disebutkan:

“Di Gereja- gereja Timur pada jaman Origen (185-253) ada usaha untuk menyesuaikan dengan kanon Ibrani…. [Namun] usaha untuk menyesuaikan teks Ibrani dalam kanon Ibrani tidak menghalangi para pengarang Kristen di gereja-gereja Timur untuk menggunakan kitab-kitab yang tidak termasuk dalam kanon Ibrani, atau yang mengikuti teks Septuagint. Maka pendapat bahwa - kanon Ibrani yang seharusnya dipilih oleh umat Kristiani- tidak dipilih oleh gereja-gereja Timur, atau setidak-tidaknya tidak ada kesan yang mendukung ke arah itu. Di gereja-gereja Barat, penggunaan Septuagint adalah umum dan dipertahankan oleh St. Agustinus (354-430). Ia melandaskan pandangannya pada praktek yang telah berlangsung lama dalam Gereja.”

Maka berdasarkan penggunaan kitab-kitab yang telah lama berakar di Gereja, Gereja Katolik menetapkan kanon Kitab Suci pada Konsili di Hippo 393 dan Carthage 397, yaitu 46 kitab dari kanon Yunani (Septuagint) sebagai kanon Perjanjian Lama/PL dan 27 kitab Perjanjian Baru/ PB termasuk di sini adalah ketujuh kitab di PL yang disebut sebagai Deuterokanonika. Para Bapa Gereja, baik sejak jaman Kristen abad pertama, Polycarpus, Irenaeus, Clement dan Cyprian mengutip kitab-kitab Deuterokononika tersebut dalam pengajaran mereka[7], sebab mereka menganggap kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus, sama dengan kitab-kitab PL lainnya. Sejak saat diresmikannya kanon Kitab Suci pada abad ke-4, Septuagint ini diterima oleh umat Kristiani, kecuali oleh mereka yang kemudian menolaknya pada sekitar tahun 1529 bersamaan dengan pemisahan diri mereka dari kesatuan dengan Gereja Katolik. Jadi tidak benar bahwa Kitab Deuterokanonika baru ditambahkan pada tahun 1546 pada Konsili Trente; ini adalah mitos yang sangat keliru!

PL menurut Martin Luther dan gereja Protestan
Dengan berpegang pada kanon Ibrani berdasarkan Konsili Jamnia dan pendapat St. Jerome, gereja Protestan menganggap ke- 39 kitab sebagai kanon Perjanjian Lama. Namun demikian sebenarnya alasan ini tidak cukup kuat, karena walaupun St. Jerome pernah menyatakan pendapatnya yang menolak status kanonik kitab Yudit, Tobit, Makabe, Sirakh dan Kebijaksanaan, ia pada akhirnya dengan rendah hati tunduk pada keputusan Gereja, dengan memasukkan kitab-kitab tersebut ke dalam terjemahan Kitab Suci berbahasa Latin, “the Vulgate”. Juga penelitian terakhir dari the Dead Sea Scroll di Qumran menunjukkan ditemukannya copy naskah berbahasa Ibrani dari beberapa kitab yang dipermasalahkan (yang tidak termasuk kanon Ibrani).[8] Selanjutnya, penemuan naskah Ibrani pada sebagian besar kitab Sirakh/ Ecclesiaticus di Mesir memperkuat anggapan para ahli kitab suci bahwa kitab Sirakh tersebut diterjemahkan ke bahasa Yunani dari bahasa Ibrani.[9]

Bukti-bukti ini sesungguhnya memperkuat bahwa Septuagint adalah terjemahan awal yang lengkap dan otentik, hanya saja dengan berselangnya waktu, naskah Ibrani dari beberapa kitab ini tidak dapat ditemukan seluruhnya. Jika suatu saat nanti ditemukan semua naskah Ibraninya, barangkali semua menjadi lebih jelas. Namun dengan ditemukannya sebagian saja dari naskah Ibrani kitab tersebut, itu sudah menunjukkan bahwa alasan mencoret keberadaan kitab Deuterokanonika dari kanon hanya karena tidak dapat ditemukan naskah Ibrani-nya, sesungguhnya bukan merupakan alasan yang kuat. Sebab, jika suatu saat dapat ditemukan semua naskah Ibrani-nya, bagaimana mempertanggungjawabkan pendapat ini?

Juga perlu direnungkan, mengapa gereja Protestan mengambil dasar konsili Jamnia sebagai dasar penentuan kanon PL, sebab konsili itu tidak umum diketahui oleh kaum Yahudi dan hasil konsili tersebut tidak diterima oleh segenap kaum Yahudi. Kaum Saduki dan Samaria tidak menerimanya, bahkan kaum Yahudi di Ethiophia sampai sekarang mempunyai kitab PL yang sama dengan yang kanon PL Gereja Katolik.

Sekarang mari kita melihat fakta sejarah.[10] Walaupun Luther mempertanyakan penetapan 46 kitab dalam kanon PL, namun ia sendiri tetap menyertakan Kitab Deuterokanonika tersebut dalam terjemahan Alkitab pertamanya dalam bahasa Jerman pada tahun 1530. Kitab Deuterokanonika juga ditemukan dalam edisi pertama King James Version pada tahun 1611, dan pada saat pertama Alkitab dicetak. Maka kitab Deuterokanonika memang sudah termasuk dalam semua Alkitab (setidak-tidaknya sebagai appendix dalam Alkitab Protestan) sampai pada tahun 1825, yaitu saat Komite Edinburgh dari the British Foreign Bible Society ‘memotongnya’. Maka terlihat bahwa bukan Gereja Katolik yang menambahkan Kitab Deuterokanonika, melainkan gereja Protestan yang menguranginya dari keseluruhan Kitab Suci.

Perlu juga diketahui bahwa Luther mempertanyakan keaslian kitab 2 Makabe, dari segi historis dan karena di kitab tersebut juga berisi dasar doktrin Api Penyucian, yang bertentangan dengan prinsip-nya “Salvation by faith alone”. Pandangan inilah yang sering dianggap sebagai alasan mengapa Luther memisahkan kitab Deuterokanonika sebagai “Apokrif ‘Apocrypha’, yaitu kitab-kitab yang tidak dianggap sama seperti Kitab Suci lainnya namun sebagai kitab yang berguna dan baik untuk dibaca.”[11] Sayangnya, setelah jaman Reformasi, arti ‘apocrypha’ –yang terjemahan bebasnya adalah ‘tersebunyi’ ini memperoleh konotasi negatif, sehingga diartikan sebagai ‘salah/ sesat’.

Kanon PL mana yang kita pilih?
Jika kita memilih untuk berpegang pada Kitab Suci yang mengandung ketujuh kitab tersebut, artinya, kita mengikuti tradisi para rasul, para penulis kitab Perjanjian Baru dan para jemaat awal. Namun jika kita berpegang pada Kitab Suci yang tidak mencantumkan ketujuh kitab itu, artinya kita mengikuti tradisi para rabi Yahudi non-Kristen yang kemudian diikuti oleh gereja Protestan.

Kanon Perjanjian Baru (PB)
Mengenai hal kanon PB, baik Gereja Katolik maupun Protestan setuju, bahwa terdapat 27 kitab di dalam kitab Perjanjian Baru. Kitab pertama PB dituliskan sekitar tahun 50, yaitu 1 Tesalonika, dan yang terakhir, Wahyu, pada tahun 90-100. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana sampai diperoleh Kitab Perjanjian Baru tersebut, jika pada waktu yang sama dituliskan kitab-kitab lain, yang mengundang perbedaan pendapat dalam kelompok jemaat mengenai hal ke-otentikan kitab sebagai yang diilhami Roh Kudus. Misalnya ada yang berpendapat bahwa kitab Ibrani, Yudas, Wahyu dan 2 Petrus itu tidak diilhami Roh Kudus, sedangkan sebaliknya ada yang berpendapat bahwa kitab Hermas, Injil Petrus dan Thomas, surat Barnabas dan Clement adalah tulisan yang diilhami Roh Kudus. Gereja memahami situasi ‘kebingungan’ ini maka pada akhir abad ke- 4 dimulailah suatu konsili dan dekrit yang memutuskan Kanon seluruh Kitab Suci, sebagai berikut:

Tahun 382, Paus Damaskus I, didorong oleh Konsili Roma, menulis dekrit yang menentukan ke 73 kitab, PL dan PB.
Tahun 393, Konsili Hippo di Afrika Utara menyetujui adanya ke-73 kitab tersebut dalam kanon Kitab Suci, PL dan PB.
Tahun 397, Konsili Carthage/ Carthago, Afrika Utara, kembali menyetujui kanon PL dan PB tersebut. Banyak gereja Protestan yang menganggap konsili ini sebagai yang menentukan secara otoritatif kanon Perjanjian Baru.
Tahun 405, Paus St. Innocentius I (401-417) menulis surat kepada Uskup Exsuperius dari Toulouse, menetapkan ke 73 kitab seperti yang disetujui oleh Konsili Hippo dan Carthage.
Tahun 419, Konsili ekumenikal di Florence secara resmi mendefinisikan daftar ke-73 kitab yang sama tersebut dalam kanon Kitab Suci.
Tahun 1546, Konsili ekumenikal di Trente meneguhkan lagi kanon Kitab Suci yang terdiri dari ke-73 kitab tersebut.
Tahun 1869, Konsili ekumenikal Vatikan I kembali meneguhkan daftar kitab yang disebutkan dalam Konsili Trente.
Maka kita ketahui dalam waktu 40 tahun dari tahun 382 sampai 419 diadakan beberapa konsili dan keputusan Bapa Paus tentang Kanon Kitab Suci sampai akhirnya ke-73 kitab tersebut diterima secara umum oleh Gereja pada sekitar tahun 450.

Gereja Katolik menggunakan wewenang mengajarnya untuk meneguhkan kanon Kitab Suci tersebut, dan kita patut bersyukur atas campur tangan Roh Kudus yang memimpin Gereja Katolik dalam hal ini. St. Agustinus berkata, “Saya tidak akan percaya pada Injil seandainya otoritas Gereja Katolik tidak mengarahkan saya untuk itu”.[12] Maka St. Agustinus mengakui bahwa kepastian akan keaslian kitab tertentu sebagai yang sungguh diilhami oleh Roh Kudus adalah dengan menerima ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja Katolik, dan dengan demikian mengakui juga otoritas Gereja Katolik. Suatu permenungan adalah: jika kita meragukan otoritas Gereja Katolik, maka kita sesungguhnya juga menentang Para Bapa Gereja, seperti St. Agustinus. Adakah kita lebih pandai dan lebih diilhami Roh Kudus daripada mereka?

Kesimpulan
Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa Kitab Suci berkaitan erat dengan Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Lama ditetapkan berdasarkan terjemahan yang diakui oleh Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Baru ditulis, diperbanyak, dikumpulkan dan dilestarikan oleh Gereja Katolik. Dari kanon yang ditetapkan oleh Gereja Katolik inilah semua gereja yang lain memperoleh Kitab Suci. Namun bukan berarti bahwa otoritas Gereja Katolik-lah yang menciptakan Kitab Suci, sebab Roh Kuduslah yang memberi inspirasi kepada para penulis Kitab Suci. Yang benar adalah, Gereja Katolik diberi kuasa ilahi oleh Yesus Kristus sendiri untuk secara resmi meneguhkan dan menentukan secara dogmatis daftar kitab-kitab tertentu sebagai kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Penentuan ini tidak mungkin salah, sebab Gereja dipimpin oleh Roh Kudus yang tidak mungkin salah. Mari bersama, kita dengan rendah hati mensyukuri rahmat bimbingan Roh Kudus terhadap Gereja Katolik yang olehnya kita memperoleh Kitab Suci. Mari kita tunjukkan ketaatan iman kita kepada Kristus dengan mempercayai ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja yang didirikan-Nya. Dan akhirnya, mari bersama-sama kita belajar lebih tekun membaca dan merenungkan Kitab Suci, yang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Gereja Katolik.
( Sumber: katolisitas.org)


Read more...

Kamis, Agustus 06, 2009

CINTA SEEKOR KADAL

Satu lagi kisah nyata tentang CINTA !
Kali ini terjadi di Jepang.
Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku.
Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.
Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun???
Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.
Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!
Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Tak lama kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya. ….AHHHH ini dia rupanya !
Sungguh mengharukan, ternyata ada seekor kadal lain yang telah memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun !
Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah KEAJAIBAN.
Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.
Sungguh kita akan merasa tersentuh mendengar cerita ini dan mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, orang-tua, teman, kekasih, saudara lelaki, saudara perempuan…..
Teknologi informasi telah tersedia dengan mudah dan cepat. Tak peduli sejauh apa jarak diantara kita, tetaplah dekat dengan orang-orang yang kita kasihi.

JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI dan Masih belum terlambat untuk mulai mencintai !!!

Read more...

Jumat, Juni 12, 2009

10 PERINTAH ALLAH

1. Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja, dan cintailah Aku lebih dari segala Sesuatu
2. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat
3. Kuduskanlah hari Tuhan
4. Hormatilah ibu-bapamu
5. Jangan membunuh
6. Jangan berzinah
7. Jangan mencuri
8. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu
9. Jangan mengingini istri sesamamu
10. Jangan mengingini milik sesamu secara tidak adil



Ingat-ingat, hayati, dan amalkan.
Apabila lupa, ya... baca lagi.


Read more...

Kategori